Selasa, 24 Oktober 2017

perkembangan kognitif pada peserta didik

PERKEMBANGAN KOGNITIF PESERTA DIDIK
MAKALAH

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Psikologi Perkembangangan Pesrerta Didik


Disusun oleh :
Ade Dian
Jauhari
Paroh Maulida
Tini






SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYYAH
QURROTA A’YUN
SAMARANG
2016
KATA PENGANTAR


Assalamu’alaikum Wr. Wbr
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat, ridho dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini, shalawat serta salam semoga selalu terlimpah curahkan kapada Nabi Muhammad SAW. kepada keluarganya, para sahabatnya, dan semoga sampai pada kita selaku umatnya.
Makalah ini berjudul “Perkembangan Kognitif Peserta Didik” yang merupakan salah satu syarat sebagai bukti telah melaksanakan dan menyelesaikan tugas mata kuliah Psikologi Perkembangan Pesera Didik di STIT Qurrota A’yun Samarang-Garut
Dalam kesempatan ini penulis ingin mengungkapkan rasa terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada ibu gaharani saraswati selaku pembimbing
Akhirnya dengan segala kerendahan hati, penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah  ini masih banyak kekurangannya, karena keterbatasan ilmu dan pengalaman yang penulis miliki. walaupun demikian, penulis berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca. Aamiin.





Garut, Oktober  2016


Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Peserta didik tidak pernah lepas dari kegiatan belajar, baik di sekolah maupun dalam lingkungan keluarga. Sehingga kemampuan kognitif sangat diperlukan peserta didik dalam pendidikan.  Perkembangan kognitif merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam perkembangan peserta didik. Kita ketahui bahwa peserta didik merupakan objek yang berkaitan langsung dengan proses pembelajaran, sehingga perkembangan kognitif sangat menentukan keberhasilan peserta didik dalam sekolah.
Dalam perkembangan kognitif di sekolah, guru sebagai tenaga kependidikan yang bertanggung jawab dalam pengembangan kognitif peserta didik perlu memiliki pemahaman yang sangat mendalam tentang perkembangan kognitif pada anak didiknya.
Orang tua juga tidak kalah penting dalam pembentukan kognitif anak karena, perkembangan dan pertumbuhan anak dimulai di lingkungan keluarga. Namun, sebagian pendidik dan orang tua belum terlalu memahami tentang perkembangan kognitif anak, proses perkembangan kognitif, bahkan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kognitif anak.
Melalui makalah ini kami mencoba untuk mengangkat masalah perkembangan kognitif peserta didik agar guru dan orang tua dapat memberikan layanan pendidikan atau melaksanakan proses pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan kognitif masing-masing anak secara optimal.








B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian perkembangan kognitif ?
2.      Bagaimana penjelasan Teori Perkembangan Kognitif menurut piaget dan menurut teori pemrosesan informasi ?
3.      Apa saja Aspek perkembangan kognitif peserta didik ?
4.      Apa saja Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Kognitif ?
5.      Bagaimana Implikasi Teori Perkembangan Kognitif Piaget Terhadap Pendidikan ?
6.      Bagaimana Implikasi Perkembangan Kognitif Peserta Didik ?
C.    Tujuan Makalah
1.      Menjelaskan pengertian perkembangan kognitif ?
2.      Menjelaskan teori perkembangan kognitif menurut piaget dan menurut teori pemrosesan informasi
3.      Mendeskripsikan aspek perkembangan kognitif peserta didik
4.      Menguraikan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kognitif.
5.      Memaparkanimplikasi teori perkembangan kognitif piaget terhadap pendidikan
6.      Memaparkam implikasi perkembangan kognitif peserta didik









BAB II
PEMBAHASAN
A.  Pengertian Perkembangan Kognitif
Perkembangan kognitif adalah salah satu aspek perkembangan peserta didik yang berkaitan dengan pengertian (pengetahuan), yaitu semua proses psikologis yag berkaitan dengan bagaimana individu mempelajari dan memikirkan lingkungannya.
Istilah “Cognitive” berasal dari kata cognition artinya adalah pengertian, mengerti. Kognitif adalah proses yang terjadi secara internal di dalam pusat susunan saraf pada waktu manusia sedang berpikir (Gagne dalam Jamaris, 2006). Pengertian yang luasnya cognition (kognisi) adalah perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan[1] Menurut para ahli jiwa aliran kognitifis, tingkah laku seseorang/anak itu senantiasa didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana tingkah laku itu terjadi.
Dalam pekembangan selanjutnya, kemudian istilah kognitif ini menjadi populer sebagai salah satu wilayah psikologi manusia / satu konsep umum yang mencakup semua bentuk pengenalan yang meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan dengan masalah pemahaman, memperhatikan, memberikan, menyangka, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesengajaan, pertimbangan, membayangkan, memperkirakan, berpikir dan keyakinan. Termasuk kejiwaan yang berpusat di otak ini juga berhubungan dengan konasi (kehendak) dan afeksi (perasaan) yang bertalian dengan rasa.
Didalam buku psikologi perkembangan karya Prof.Dr.Kusdwiratri Setiono, Psi. menyatakan bahwa secara umum kognisi diartikan sebagai apa yang diketahui serta dipikirkan oleh seseorang. Serupa dengan aspek-aspek perkembangan yang lainnya, kemampuan kognitif anak juga mengalami perkembangan tahap demi tahap. Secara sederhana, pada buku karangan (Desmita, 2009) dijelaskan kemampuan kognitif dapat dipahami sebagai kemampuan anak untuk berpikir lebih kompleks serta kemampuan melakukan penalaran dan pemecahan masalah. Dengan berkembangnya kemampuan kognitif ini akan memudahkan peserta didik menguasai pengetahuan umum yang lebih luas, sehingga anak mampu melanjutkan fungsinya dengan wajar dalam interaksinya dengan masyarakat dan lingkungan.
Dalam Dictionary of Psychology karya Chaplin (2000), dijelaskan bahwa “kognisi adalah konsep umum yang mencakup semua bentuk pengenalan, termasuk didalamnya mengamati, melihat, memperhatikan, memberikan, menyangka, membayangkan, memperkirakan, menduga, dan menilai”.
Dari pengertian-pengertian diatas dapat dipahami bahwa kognitif atau pemikiran adalah istilah yang digunakan oleh ahli pskologi untuk menjelaskan semua aktifitas mental yang berhubungan dengan persepsi, pikiran, ingatan, dan pengolahan informasi yang memungkinkan seseorang memperoleh pengetahuan, memecahkan masalah, dan merencanakan masa depan, atau semua proses psikologis yang berkaitan dengan bagaimana individu mempelajari, memperhatikan, mengamati, membayangkan, memperkirakan, menilai, dan memikirkan langkahnya.

B.   Teori Perkembangan Kognitif
1)      Menurut Piaget
a.       Ide-ide dasar Teori Piaget
Piaget mengemukakan beberapa konsep dan prinsip tentang sifat-sifat perkembangan kognitif anak, diantaranya:
1.       Anak adalah pembelajar yang aktif. Anak tidak hanya mengobservasi dan mengingat apa saja yang mereka lihat dan mendengarkan dengan pasif. Sebaliknya mereka secara natural memiliki rasa ingin tahu tentang dunia mereka dan secara aktif berusaha mencari informasi untuk membantu pemahaman dan kesadarannya tentang realitas dunia yang mereka hadapi.
Dalam memahami dunia mereka, anak menggunakan apa yang disebut oleh Piaget dengan skema, yaitu konsep atau kerangka yang ada dalam pikiran mereka yang digunakan untuk mengorganisasikan dan menginterprestasikan informasi.
2.    Anak mengorganisasi apa yang mereka pelajari dari pengalamannya. Anak-anak tidak hanya mengumpulkan apa saja yang mereka pelajari dari fakta-fakta yang terpisah menjadi suatu kesatuan. Sebaliknya, anak secara gradual membangun suatu pandangan menyeluruh tentang bagaimana dunia bergerak.
3.    Anak menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui proses asimilasi dan akomodasi. Dalam menggunakan dan mengadaptasi skema mereka, ada dua proses yang bertanggungjawab, yaitu: assimilation dan accomodation. Asimilasi terjadi ketika seorang anak memasuki pengetahuan baru kedalam pengetahuan yang sudah ada. Akomodasi terjadi ketika anak  menyesuaikan diri pada informasi baru.
4.    Proses ekuilibrasi menunjukan adanya peningkatan ke arah bentuk-bentuk pemikiran yang lebih komplek. Menurut Piaget, melalui kedua proses penyesuaian asimilasi dan akomodasi sistem kognisi seseorang berkembang bertahap sehingga kadang-kadang mencapai keadaan equilibrum, yakni keadaan seimbang antara struktur kognisinya dan pengalamannya di lingkungan. Kondisi ini menimbulkan konflik kognitif atau disequilibrum, yakni ketidaknyamanan mental yang mendorongnya untuk membuat pemahaman tentang yang mereka lihat.
b.      Teori Perkembangan Kognitif Piaget.
Piaget meyakini bahwa pemikiran seorang anak berkembang dari bayi sampai dia dewasa. setiap individu pada saat tumbuh mulai dari bayi yang baru di lahirkan sampai mengijak usia dewasa mengalami empat tingkat perkembangan kognitif, yaitu
1.    Tahap Sensori-Motorik (usia 0 sampai 2 tahun)
Dikatakan bahwa bayi bergerak dari tindakan reflex instinktif pada saat lahir sampai permulaan pemikiran simbolis. Bayi membangun suatu pemahaman tentang dunia melalui pengkoordinasian pengalaman-pengalaman sensor dengan tindakan fisik (Desmita 2009:101). Piaget berpendapat bahwa dalam perkembangan kognitif selama stadium sensori motorik ini, inteligensi anak baru nampak dalam bentuk aktivitas motorik sebagai reaksi simulasi sensorik. Dalam stadium ini yang penting adalah tindakan konkrit dan bukan tindakan imaginer atau hanya dibayangan saja.” Pada proses ini Piaget menamakan proses desentrasi, artinya anak dapat memandang dirinya sendiri dan lingkungan sebagai dua entitas yang berbeda. (Arya, 2010)
2.      Tahap Pra-Operasional (usia 2 sampai 7 tahun
Pada tahap ini anak mulai merepresentasikan dunia dengan kata-kata dari berbagai gambar. Kata dan gambar-gambar ini menunjukkan adanya peningkatan pemikiran simbolis dan melampaui hubungan informasi indrawi dan tindakan fisik. pada tahapan pra-operasional menurut piaget ada beberapa cirri antara lain :
ü  Berpikir pra-operasional masih sangat egosentris. Anak belum mampu (secara perseptual, emosional-motivational, dan konsepsual) untuk mengambil perspektif orang lain.
ü  Cara berpikir pra-operasional sangat memusat (centralized). Bila anak dikonfrontasi dengan situasi yang multi-dimensional, maka ia akan memusatkan perhatiannya hanya pada satu dimensi saja dan mengabaikan dimensi-dimensi yang lain dan akhirnya juga mengabaikan hubungannya antara dimensi-dimensi ini.
ü  Berpikir pra-operasional adalah tidak dapat dibalik (irreversable). Anak belum mampu untuk meniadakan suatu tindakan dengan memikirkan tindakan tersebut dalam arah yang sebaliknya.
ü  Berpikir pra-operasional adalah terarah statis.
ü  Berpikir pra-operasional adalah transductive (pemikiran yang meloncat-loncat). Tidak dapat melakukan pekerjaan secara berurutan.
ü  Berpikir pra-operasional adalah imaginatif, yaitu menempatkan suatu objek tidak berdasarkan realitas tetapi hanya yang ada dalam pikirannya saja.
3.       Tahap Konkret-operasional (usia 7 sampai 11 tahun)
Ditahap ini anak dapat berpikir secara logis mengenai peristiwa-peristiwa yang konkret dan mengklasifikasikan benda-benda ke dalam bentuk-bentuk yang berbeda Tetapi dalam tahapan konkret-operasional masih mempunyai kekurangan yaitu, anak mampu untuk melakukan aktivitas logis tertentu tetapi hanya dalam situasi yang konkrit. Dengan kata lain, bila anak dihadapkan dengan suatu masalah secara verbal, yaitu tanpa adanya bahan yang konkrit, maka ia belum mampu untuk menyelesaikan masalah ini dengan baik.
4.    Tahap Operasional Formal (usia 11 tahun sampai dewasa)
Ditahap ini remaja berfikir dengan cara yang lebih abstrak, logis, dan lebih idealistik. tahap operasional formal mencakup dua hal, yaitu
ü Sifat deduktif-hipotesis
Ketika anak mendapatkan masalah, maka mereka akan membentuk strategi-strategi penyelesaian berdasarkan hepotesis permasalahan tersebut. Maka dari itulah berpikir operasional formal juga disebut berpikir proporsional.
ü  Berpikir operasional formal juga berfikir kombinatoris.
Berpikir operasional formal memungkinkan orang untuk mempunyai tingkah laku problem solving yang betul-betul ilmiah.
2)      Teori Pemprosesan Informasi.[2]
Perkembangan kognitif dapat dikaji dengan menggunakan pendekatan system pemprosesan informasi sebagai alternatif terhadap teori kognitif Piaget. Pada teori Piaget perkembangan kognitif digambarkan dengan berbagai tahap tetapi, para pakar psikologi pemprosesan informasi lebih menekankan pentingnya proses-proses kognitif atau menganalisis perkembangan keterampilan kognitif, seperti perhatian, memori, metakofnisi dan strategi kognitif.
Setidaknya ada tiga dasar asumsi umum teori pemprosesan informasi
a.       Pikiran dipandang sebagai suatu system penyimpanan dan pengembalian informasi.
b.      Individu-individu memproses informasi dari lingkungan.
c.       Terdapat keterbatasan pada kapasitas untuk memproses informasi dari seorang individu.
Berdasarkan pemaparan diatas maka dapat kita pahami bahwa teori pemprosesan informasi lebih menekankan bagaimana individu memproses informasi tentang dunia, bagaimana informasi masuk ke dalam fikiran, bagaimana penyimpanan dan penyebaran informasi dan bagaimana pengambilan kembali informasi untuk melaksanakan aktivitas yang kompleks. Sehingga inti dari pendekatan pemprosesan informasi ini adalah proses memori dan proses berfikir.
Robert Siegler (1998) mendiskripsikan tiga karakteristik utama dari pendekatan pemprosesan informasi, yaitu proses berfikir, mekanisme pengubah, dan modifikasi diri. Seperti uraian diatas, kita ketahui para ahli teori pemrosesan informasi menolak pendapat Piaget tentang tahap-tahap perkembangan kognitif. Mereka percaya bahwa proses kognitif berkembang secara gradual dan cendrung tetap.

C.  Aspek perkembangan kognitif peserta didik
1.       Persepsi
persepsi adalah suatu proses penggunaan pengetahuan yang telah dimiliki untuk memperoleh dan menginterpretasi stimulus (rangsaan) yang diterima oleh sistem alat indra manusia. Segala informasi tentang dunia akan sampai ke individu melalui indra
Penilaian ( appraisal) seseorang terhadap suatu stimulus biasanya dilakukan meelalui proses kongnitif, yaitu proses mental yang memungkinkan seseorang mengevaluasi, memaknai dan menggunakan informasi yang diperoleh melalui kongnitif yang ada pada diri manusia akan memugkinkan terjadiya proses penyaringan, perubahan atau modifikasi dari stimulus yang ada.
Persepsi adalah proses kognitif yang kompleks untuk mnghasilkan suatu gambaran yang unik tentang relistas yang barangkali sangat berbeda dengan kenyataan sesungguhnya. Persepsi meliputi suatu interaksi rumit yang melibatkan setidaknya tiga komponen utama, yaitu : seleksi, penyusunan, dan penafsiran.
ü Seleksi adalah proses penyarigan oleh indra terhadap stimulus. Seleksi percetual ini tidak hanya bergantung pada determinan. determinan utama dari perhatian seperti : intensitas (intensity), kualitas (quality), kesegaran (suddennes), kebaruan (novelty), gerakan (movement) dan kesesuaian (kongruity) dengan muatan kesadaran yang telah ada melainkan juga tergantung pada minat, kebutuhan-kebutuhan, dan nilai-nilai yang dianut.
ü Penyusunan adalah proses mereduksi, mengorganisasikan, menata, atau menyederhanakan informasi yang kompleks dalam suatu yang bermakna.
ü Penafsiran adalah proses menerjemahkan atau menginterprstasikan informasi atau stimulus kedalam bentuk tingkah laku sebagai respons
2.      memori (ingatan)
Memori adalah sistem kognitif manusia yang mempunyai fungsi menyimpan informasi atau pengetahuan. memori adalah keseluruhan pengalaman masa lampau yang dapat di ingat kembali. (Caplin 2002).
Perkembangan Memori Setelah anak usia 7 tahun tidak terlihat adanya peningkatan yang berarti. Namun, mereka memproses informasi menunjukan keterbatasan-keterbatasan dibandingkan dengan orang dewasa. Berbeda halnya dengan memori jangka panjang, terlihat adanya peningkatan seiring dengan penambahan usia selama masa usia sekolah. Ini dikarenakan memori jangka panjang sangat berpengaruh pada kegiatan-kegiatan belajar individu ketika mempelajari dan mengingat informasi.
Dalam suatu studi tentang perkembangan memori, dilaporkan rentang memori meningkat bersamaan dengan bertambahnya usia. Pada usia 2 tahun, anak dapat mengingat 2 digit, pada anak usia 7 tahun meningkat menjadi 5 digit dan 7 digit pada usia 12 tahun.
3.      Atensi ( Perhatian)
Atensi (attention) atau perhatian merupakan sebuah konsep multi-dimensional yang digunakan yang digunakan untuk menggambarkan perbedaan ciri-ciri dan cara-cara merespons dalam sistem kognitif (Parkon, 2000). Menurut chaplin (2002), atensi adalah konsentrasi terhadap aktivitas mental.
Aspek-aspek atensi yang berkembang selama masa bayi memiliki arti yang sangat penting selama tahun-tahun prasekolah. Penelitian telah menunjukkan bahwa hilangnya atensi (habitutation) dan pulihnya atensi ( dishabituation) jika diukur pada 6 bulan pertama masa bayi, berkaitan dengan tingginya kecerdasan pada tahun-tahun prsekolah.
Para ahli psikologi perkembangan meyakini bahwa perubahan ini mencerminkan suatu pergeseran pengendalian kognitif perhatian sehingga anak-anak bertindak kurang impulsif
John Flavel ( dalam Woolfolk & Nicolich,2004 ) mendeskripsikan empat aspek atensi yang berkembang seiring dengan bertambah besarnya anak, yaitu :
ü Ketika anak-anak tumbuh semakin besar, ia lebih mampu mengendalikan atensinya. Mereka tidak hanya memiliki atensi dangkal, tetapi mereka juga semakin berkembang ketika fokus pada apa yang penting dan mengabaikan detail-detail yang tidak relevan.
ü Seiring dengan perkembangannya, anak-anak menjadi lebih baik dalam menyesuaikan kemampuan atensinya dengan tugas.
ü Anak-anak mengembangkan kemampuannya untuk merencanakan bagaimana ia akan mengarahkan atensinya. Mereka akan mencari kata kunci untuk menentukan sesuatu yang penting dan siap untuk memperhatikan.
ü Anak-anak mengembangkan kemampuan mereka untuk memonitor atensinya, menetapkan apakah mereka menggunakan strategi yang tepat, dan mengubah pendekatan saat diperlukan untuk mengikuti rangkaian peristiwa yang kompleks.

D.    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Kognitif.
1.      Perkembangan kognitif merupakan salah satu topik yang sering dibicarakan dan diperdebatkan banyak orang. Berbagai cara dilakukan supaya perkembangan kognitif seorang anak menjadi optimal. Perkembangan kognitif meliputi perkembangan dalam hal pemikiran, intelegensi, dan bahasa.
2.      kemampuan kognitif seseorang dipengaruhi oleh dua hal yaitu, faktor herediter atau keturunan dan faktor non herediter. Faktor herediter merupakan faktor yang bersifat statis, lebih sulit untuk berubah. Sebaliknya, faktor non herediter merupakan faktor yang lebih plastis, lebih memungkinkan untuk diutak-atik oleh lingkungan. Pengaruh non herediter antara lain peranan gizi, peran keluarga, dalam hal ini lebih mengarah pada pengasuhan, dan peran masyarakat atau lingkungan termasuk pengalaman dalam menjalani kehidupan.
3.      Perkembangan kognitif sendiri sudah dapat dipersiapkan sejak dalam kandungan sampai dewasa. Asupan gizi yang sehat dan seimbang menjadi fondasi bagi perkembangan kognitif. Calon bayi juga dapat dirangsang dengan cara memberikan stimulus atau rangsangan seperti, mengajak bercakap-cakap, mendengar musik, melakukan relaksasi, menjaga stabilitas emosi pada ibu. Setelah lahir, rangsangan yang diberikan juga tetap diberikan.
4.      Salah satu perkembangan fisik yang mempengaruhi perkembangan kognitif adalah perkembangan otak Otak berkembang paling pesat pada masa bayi. Pada masa kanak-kanak otak tidak bertumbuh dan berkembang sepesat masa bayi. Pada masa awal kanak-kanak, perkembangan otak dan sistem syaraf berkelanjutan. Otak dan kepala bertumbuh lebih pesat daripada bagian tubuh lainnya.  Bertambah matangnya otak, dikombinasikan dengan kesempatan untuk mengalami suatu pengalaman melalui rangsangan dari lingkungan menjadi sumbangan terbesar bagi lahirnya kemampuan-kemampuan kognitif pada anak. Artinya, perkembangan kognitif menjadi optimal jika ada kematangan dalam pertumbuhan otak serta ada rangsangan dari lingkungannya.
5.      Kasih sayang merupakan suatu aspek penting dari relasi keluarga pada masa bayi yang dapat mempengaruhi perkembangan kognitif pada anak ke depannya Penting diperhatikan bahwa kasih sayang pengasuh pada tahun-tahun pertama kehidupan anak menjadi kunci pada perkembangan selanjutnya. Seorang pakar psikologi perkembangan, Diana Baumrind meyakini bahwa orang tua hendaknya tidak menghukum atau mengucilkan anak namun sebagai gantinya orang tua harus mengembangkan aturan-aturan dan mencurahkan kasih sayang pada anak.
6.      Gaya pengasuhan
Baumrind menekankan tiga tipe gaya pengasuhan yang dapat mempengaruhi    perkembangan kognitif,  pada anak yaitu :
-Gaya pengasuhan Otoriter (authoritarian parenting)
Gaya pengasuhan otoriter adalah suatu gaya yang membatasi dan menghukum yang menuntut anak untuk mengikuti perintah-perintah orangtua dan menghormati pekerjaan dan usaha. Orangtua yang otoriter menetapkan batasan-batasan yang tegas dan tidak memberikan peluang pada anak untuk berbicara atau bermusyawarah
-Gaya pengasuhan Otoritatif (authoritative parenting)
Gaya pengasuhan Otoritatif adalah merupakan pengasuhan yang mendorong anak untuk tetap mandiri tapi masih menetapkan batas-batas dan pengendalian atas tindakan-tindakan mereka.  Orangtua mampu menunjukkan kehangatan dan kasih sayang sekaligus memungkinkan untuk melakukan musyawarah dalam menghadapi persoalan.
-Pengasuhan otoritatif diasosiasikan dengan kompetensi sosial yang baik pada anak. Perkembangan kognitif diprediksikan menjadi lebih optimal karena anak memiliki kesempatan untuk mengembangkan kreativitas, kemampuan untuk menyelesaikan masalah (problem solving) namun tetap mengetahui norma atau aturan yang berlaku, maupun mengembangkan rasa ingin tahu tanpa mengalami ketakutan.
7.      Pengaruh lingkungan.
Pengaruh lingkungan juga memberikan andil yang cukup besar terhadap perkembangan kognitif anak. Lingkungan dalam konteks ini adalah lingkungan di luar rumah atau keluarga. Lingkungan pertama yang berpengaruh adalah sekolah, pengaruh teman sebaya (peers), status sosial ekonomi, peran gender dalam keluarga, dan media masa.
Lingkungan yang kondusif bagi perkembangan kognitif anak adalah lingkungan yang mampu merangsang rasa ingin tahu, kemampuan untuk mengamati serta menyelesaikan masalah serta mengembangkan alternative penyelesaian masalah.

E.  Implikasi Teori Perkembangan Kognitif Piaget Terhadap Pendidikan
1.      Memberi kesempatan kepada peserta didik melakuka eksperimen terhdap objek-objek fisik dan fenomena-fenomena alam.
Pada tingkat pra-sekolah eksplorasi ini dapat berupa permainan dengan air, pasir, balok-balok kayu, dan lain-lain. Demikian juga halnya dengan siswa-siswa sekolah menengah meskipun telah memiliki kemampuan untuk berfikir abstrak, masih perlu diberi kesempatan untuk memanipulasi dan melakukan eksperimen dengan benda-benda konkret, seperti bereksperimen dengan menggunakan alat-alat di laboratorium, kamera, dan film, peralatan memasak dan makan.
2.      Mengeksplorasi kemampuan penalaran siswa dengan mengajukan pertanyaan atau pemberian tugas-tugas pemecahan masalah.
Dengan memberikan tugas-tugas Piagetian, baik yang berkaitan dengan keterampilan berpikir operasional konkret maupun operasional formal (seperti konservasi, multifikasi, separasi atau mengontrol variabel-variabel, penalaran proporsional dan sebagainya)guru akan mendapatkan pengetahuan yang mendalam tentang bagaimana pemikiran penalaran para siswa.
3.      Merancang aktivitas kelompok dimana siswa berbagai pandangan dan kepercayaan dengan siswa lain.
Menurut Piaget interaksi dengan teman sebaya sangat membantu anak memahami bahwa orang lain memiliki pandangan dunia yang berbeda dengan pandangannya sendiri dan ide-ide mereka tidak selalu akurat dan logis

F.   Implikasi Perkembangan Kognitif Peserta Didik
Beberapa strategi yang dapat digunakan pendidik dalam mengembangkan proses-proses kognitif siswa.
1.      Ajak peserta didik untuk memfokuskan perhatian dan meminimalkan gangguan
2.      Gunakan isyarat, gerakan dan perubahan nada suara yang menunjukan bahwa ada sesuatu yang penting
3.      Bantu peserta didik untuk membuat isyarat atau petunjuk sendiri atau memahami satu kalimat yang perlu diperhatikan.
4.      Gunakan komentar instruksional
5.      Buat pembelajaran menjadi menarik
6.      Gunakan media dan teknologi secara efektif
7.      Fokuskan pada pembelajaran aktif untuk membuat proses pembelajaran menjadi lebih menenangkan
8.      Ubah lingkungan fisik dengan mengubah tata ruang, dan  model tempat duduk.
9.      Hindari prilaku yang membingungkan
10.  Dorong peserta didik untuk mengingat materi pembelajaran secara lebih mendalam
11.  Bantu peserta didik menata informasi yang akan dimasukkan kedalam memori.
12.  Bantu peserta didik mengingat kembali informasi yang disajikan sebelumnya.
13.  Bantu peserta didik memahami dan mengkombinasikan informasi
14.  Latih peserta didik meggunakan strategi mnemonik. Yakni strategi memori dengan cara menghafal
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Perkembangan kognitif adalah salah satu aspek perkembangan peserta didik yang berkaitan dengan pengertian (pengetahuan), yaitu semua proses psikologis yag berkaitan dengan bagaimana individu mempelajari dan memikirkan lingkungannya.
Menurut teori Piaget, setiap individu pada saat tumbuh mulai dari bayi yang baru di lahirkan sampai mengijak usia dewasa mengalami empat tingkat perkembangan kognitif, yaitu tahap aensori-motorik (dari lahir sampai 2 tahun), tahap pra-operasional (usia 2 sampai 7 tahun), tahap konkret-operasional (usia 7 sampai 11 tahun), dan tahap operasional formal (usia 11 tahun ke atas)
teori pemprosesan informasi lebih menekankan bagaimana individu memproses informasi tentang dunia, bagaimana informasi masuk ke dalam fikiran, bagaimana penyimpanan dan penyebaran informasi dan bagaimana pengambilan kembali informasi untuk melaksanakan aktivitas yang kompleks.
adapun Aspek perkembangan kognitif peserta didik diantaranya adalah : persepsi, memori (ingatan) dan atensi (perhatian). selain itu ada beberapaa faktor yang menyebabkan berkembangnya kognitif peserta didik, salah satunya adalah faktor herediter dan non heredite, faktor prtumbuhan otak, fajtor kasih sayang, faktor pengasuhan dan faktor lingkungan.
kemudian impilikasi yang bisa kita terapkan dari teori piaget salah satunya adalah Memberi kesempatan kepada peserta didik melakuka eksperimen terhdap objek-objek fisik dan fenomena-fenomena alam, Mengeksplorasi kemampuan penalaran siswa dengan mengajukan pertanyaan atau pemberian tugas-tugas pemecahan masalah.
selanjutnya strategi yang harus dilakukan pendidik terhadap pesrta didik salah satunya adalah dengan menghargai usaha peserta didik, memberikan komentar berupa instruksi yang baik, dan gunakan kemajuan teknologi untuk memfasilitasi proses pembelajaran agar lebih menarik.

DAFTAR PUSTAKA




[1] (Neisser, 1976).
[2] (Desmita 2009:115)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar