PERKEMBANGAN
KOGNITIF PESERTA DIDIK
MAKALAH
Diajukan untuk
Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Psikologi Perkembangangan Pesrerta Didik
Disusun oleh :
Ade Dian
Jauhari
Paroh Maulida
Tini

SEKOLAH
TINGGI ILMU TARBIYYAH
QURROTA
A’YUN
SAMARANG
2016
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wbr
Puji dan syukur penulis panjatkan
kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat, ridho dan karunia-Nya sehingga
penulis dapat menyelesaikan makalah ini, shalawat serta salam semoga selalu
terlimpah curahkan kapada Nabi Muhammad SAW. kepada keluarganya, para
sahabatnya, dan semoga sampai pada kita selaku umatnya.
Makalah ini
berjudul “Perkembangan Kognitif Peserta Didik” yang merupakan salah satu syarat
sebagai bukti telah melaksanakan dan menyelesaikan tugas mata kuliah Psikologi
Perkembangan Pesera Didik di STIT Qurrota A’yun Samarang-Garut
Dalam kesempatan ini penulis ingin
mengungkapkan rasa terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada ibu
gaharani saraswati selaku pembimbing
Akhirnya
dengan segala kerendahan hati, penulis menyadari bahwa dalam penulisan
makalah ini masih banyak kekurangannya,
karena keterbatasan ilmu dan pengalaman yang penulis miliki. walaupun demikian,
penulis berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis dan
umumnya bagi pembaca. Aamiin.
Garut, Oktober
2016
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
belakang
Peserta didik tidak pernah lepas dari kegiatan belajar, baik
di sekolah maupun dalam lingkungan keluarga. Sehingga kemampuan kognitif sangat
diperlukan peserta didik dalam pendidikan. Perkembangan kognitif
merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam perkembangan peserta
didik. Kita ketahui bahwa peserta didik merupakan objek yang berkaitan langsung
dengan proses pembelajaran, sehingga perkembangan kognitif sangat menentukan
keberhasilan peserta didik dalam sekolah.
Dalam perkembangan kognitif di sekolah, guru sebagai tenaga
kependidikan yang bertanggung jawab dalam pengembangan kognitif peserta didik
perlu memiliki pemahaman yang sangat mendalam tentang perkembangan kognitif
pada anak didiknya.
Orang tua juga tidak kalah penting dalam pembentukan
kognitif anak karena, perkembangan dan pertumbuhan anak dimulai di lingkungan
keluarga. Namun, sebagian pendidik dan orang tua belum terlalu memahami tentang
perkembangan kognitif anak, proses perkembangan kognitif, bahkan faktor-faktor
yang mempengaruhi perkembangan kognitif anak.
Melalui makalah ini kami mencoba untuk mengangkat masalah
perkembangan kognitif peserta didik agar guru dan orang tua dapat memberikan
layanan pendidikan atau melaksanakan proses pembelajaran yang sesuai dengan
kemampuan kognitif masing-masing anak secara optimal.
B. Rumusan
Masalah
1. Apa
pengertian perkembangan kognitif ?
2.
Bagaimana penjelasan Teori
Perkembangan Kognitif menurut piaget dan menurut teori pemrosesan informasi ?
3. Apa saja Aspek perkembangan kognitif peserta didik ?
4.
Apa saja Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan
Kognitif ?
5. Bagaimana Implikasi Teori Perkembangan Kognitif Piaget Terhadap
Pendidikan ?
6. Bagaimana Implikasi Perkembangan Kognitif Peserta Didik ?
C. Tujuan
Makalah
1. Menjelaskan
pengertian perkembangan kognitif ?
2.
Menjelaskan teori
perkembangan kognitif menurut piaget dan menurut teori pemrosesan informasi
3. Mendeskripsikan aspek perkembangan kognitif peserta didik
4.
Menguraikan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan
kognitif.
5. Memaparkanimplikasi teori perkembangan kognitif piaget terhadap
pendidikan
6. Memaparkam implikasi perkembangan kognitif peserta didik
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Perkembangan
Kognitif
Perkembangan kognitif adalah salah satu
aspek perkembangan peserta didik yang berkaitan dengan pengertian
(pengetahuan), yaitu semua proses psikologis yag berkaitan dengan bagaimana
individu mempelajari dan memikirkan lingkungannya.
Istilah “Cognitive” berasal dari kata
cognition artinya adalah pengertian, mengerti. Kognitif adalah proses yang
terjadi secara internal di dalam pusat susunan saraf pada waktu manusia sedang
berpikir (Gagne dalam Jamaris, 2006). Pengertian yang luasnya cognition
(kognisi) adalah perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan[1] Menurut
para ahli jiwa aliran kognitifis, tingkah laku seseorang/anak itu senantiasa
didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana
tingkah laku itu terjadi.
Dalam pekembangan selanjutnya, kemudian
istilah kognitif ini menjadi populer sebagai salah satu wilayah psikologi
manusia / satu konsep umum yang mencakup semua bentuk pengenalan yang meliputi
setiap perilaku mental yang berhubungan dengan masalah pemahaman,
memperhatikan, memberikan, menyangka, pertimbangan, pengolahan informasi,
pemecahan masalah, kesengajaan, pertimbangan, membayangkan, memperkirakan,
berpikir dan keyakinan. Termasuk kejiwaan yang berpusat di otak ini juga
berhubungan dengan konasi (kehendak) dan afeksi (perasaan) yang bertalian
dengan rasa.
Didalam buku psikologi perkembangan karya
Prof.Dr.Kusdwiratri Setiono, Psi. menyatakan bahwa secara umum kognisi
diartikan sebagai apa yang diketahui serta dipikirkan oleh seseorang. Serupa
dengan aspek-aspek perkembangan yang lainnya, kemampuan kognitif anak juga
mengalami perkembangan tahap demi tahap. Secara sederhana, pada buku karangan
(Desmita, 2009) dijelaskan kemampuan kognitif dapat dipahami sebagai kemampuan anak
untuk berpikir lebih kompleks serta kemampuan melakukan penalaran dan pemecahan
masalah. Dengan berkembangnya kemampuan kognitif ini akan memudahkan peserta
didik menguasai pengetahuan umum yang lebih luas, sehingga anak mampu
melanjutkan fungsinya dengan wajar dalam interaksinya dengan masyarakat dan
lingkungan.
Dalam Dictionary
of Psychology karya Chaplin (2000), dijelaskan bahwa “kognisi adalah konsep
umum yang mencakup semua bentuk pengenalan, termasuk didalamnya mengamati,
melihat, memperhatikan, memberikan, menyangka, membayangkan, memperkirakan,
menduga, dan menilai”.
Dari pengertian-pengertian diatas dapat
dipahami bahwa kognitif atau pemikiran adalah istilah yang digunakan oleh ahli
pskologi untuk menjelaskan semua aktifitas mental yang berhubungan dengan
persepsi, pikiran, ingatan, dan pengolahan informasi yang memungkinkan
seseorang memperoleh pengetahuan, memecahkan masalah, dan merencanakan masa
depan, atau semua proses psikologis yang berkaitan dengan bagaimana individu
mempelajari, memperhatikan, mengamati, membayangkan, memperkirakan, menilai,
dan memikirkan langkahnya.
B. Teori
Perkembangan Kognitif
1)
Menurut Piaget
a.
Ide-ide dasar Teori Piaget
Piaget mengemukakan beberapa konsep dan
prinsip tentang sifat-sifat perkembangan kognitif anak, diantaranya:
1.
Anak adalah pembelajar yang aktif. Anak
tidak hanya mengobservasi dan mengingat apa saja yang mereka lihat dan
mendengarkan dengan pasif. Sebaliknya mereka secara natural memiliki rasa ingin
tahu tentang dunia mereka dan secara aktif berusaha mencari informasi untuk
membantu pemahaman dan kesadarannya tentang realitas dunia yang mereka hadapi.
Dalam memahami dunia mereka, anak
menggunakan apa yang disebut oleh Piaget dengan skema, yaitu konsep atau
kerangka yang ada dalam pikiran mereka yang digunakan untuk mengorganisasikan
dan menginterprestasikan informasi.
2.
Anak mengorganisasi apa yang mereka pelajari dari pengalamannya.
Anak-anak tidak hanya mengumpulkan apa saja yang mereka pelajari dari
fakta-fakta yang terpisah menjadi suatu kesatuan. Sebaliknya, anak secara
gradual membangun suatu pandangan menyeluruh tentang bagaimana dunia bergerak.
3.
Anak menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui proses asimilasi dan
akomodasi. Dalam menggunakan dan mengadaptasi skema mereka, ada dua proses
yang bertanggungjawab, yaitu: assimilation dan accomodation. Asimilasi terjadi
ketika seorang anak memasuki pengetahuan baru kedalam pengetahuan yang sudah
ada. Akomodasi terjadi ketika anak
menyesuaikan diri pada informasi baru.
4.
Proses ekuilibrasi menunjukan adanya peningkatan ke arah bentuk-bentuk
pemikiran yang lebih komplek. Menurut Piaget, melalui kedua proses
penyesuaian asimilasi dan akomodasi sistem kognisi seseorang berkembang
bertahap sehingga kadang-kadang mencapai keadaan equilibrum, yakni keadaan seimbang
antara struktur kognisinya dan pengalamannya di lingkungan. Kondisi ini
menimbulkan konflik kognitif atau disequilibrum, yakni ketidaknyamanan mental
yang mendorongnya untuk membuat pemahaman tentang yang mereka lihat.
b.
Teori Perkembangan Kognitif Piaget.
Piaget
meyakini bahwa pemikiran seorang anak berkembang dari bayi sampai dia dewasa.
setiap individu pada saat tumbuh mulai dari bayi yang baru di lahirkan sampai
mengijak usia dewasa mengalami empat tingkat perkembangan kognitif, yaitu
1. Tahap
Sensori-Motorik (usia 0 sampai 2 tahun)
Dikatakan
bahwa bayi bergerak dari tindakan reflex instinktif pada saat lahir sampai
permulaan pemikiran simbolis. Bayi membangun suatu pemahaman tentang dunia
melalui pengkoordinasian pengalaman-pengalaman sensor dengan tindakan fisik
(Desmita 2009:101). Piaget berpendapat bahwa dalam perkembangan kognitif selama
stadium sensori motorik ini, inteligensi anak baru nampak dalam bentuk
aktivitas motorik sebagai reaksi simulasi sensorik. Dalam stadium ini yang
penting adalah tindakan konkrit dan bukan tindakan imaginer atau hanya
dibayangan saja.” Pada proses ini Piaget menamakan proses desentrasi, artinya
anak dapat memandang dirinya sendiri dan lingkungan sebagai dua entitas yang berbeda.
(Arya, 2010)
2. Tahap
Pra-Operasional (usia 2 sampai 7 tahun
Pada
tahap ini anak mulai merepresentasikan dunia dengan kata-kata dari berbagai
gambar. Kata dan gambar-gambar ini menunjukkan adanya peningkatan pemikiran
simbolis dan melampaui hubungan informasi indrawi dan tindakan fisik. pada
tahapan pra-operasional menurut piaget ada beberapa cirri antara lain :
ü Berpikir
pra-operasional masih sangat egosentris. Anak belum mampu (secara perseptual,
emosional-motivational, dan konsepsual) untuk mengambil perspektif orang lain.
ü Cara
berpikir pra-operasional sangat memusat (centralized). Bila anak dikonfrontasi
dengan situasi yang multi-dimensional, maka ia akan memusatkan perhatiannya
hanya pada satu dimensi saja dan mengabaikan dimensi-dimensi yang lain dan
akhirnya juga mengabaikan hubungannya antara dimensi-dimensi ini.
ü Berpikir
pra-operasional adalah tidak dapat dibalik (irreversable). Anak belum mampu
untuk meniadakan suatu tindakan dengan memikirkan tindakan tersebut dalam arah
yang sebaliknya.
ü Berpikir
pra-operasional adalah terarah statis.
ü Berpikir
pra-operasional adalah transductive (pemikiran yang meloncat-loncat). Tidak
dapat melakukan pekerjaan secara berurutan.
ü Berpikir
pra-operasional adalah imaginatif, yaitu menempatkan suatu objek tidak
berdasarkan realitas tetapi hanya yang ada dalam pikirannya saja.
3. Tahap Konkret-operasional (usia 7 sampai 11
tahun)
Ditahap
ini anak dapat berpikir secara logis mengenai peristiwa-peristiwa yang konkret
dan mengklasifikasikan benda-benda ke dalam bentuk-bentuk yang berbeda Tetapi
dalam tahapan konkret-operasional masih mempunyai kekurangan yaitu, anak mampu
untuk melakukan aktivitas logis tertentu tetapi hanya dalam situasi yang
konkrit. Dengan kata lain, bila anak dihadapkan dengan suatu masalah secara
verbal, yaitu tanpa adanya bahan yang konkrit, maka ia belum mampu untuk
menyelesaikan masalah ini dengan baik.
4. Tahap
Operasional Formal (usia 11 tahun sampai dewasa)
Ditahap
ini remaja berfikir dengan cara yang lebih abstrak, logis, dan lebih
idealistik. tahap operasional formal mencakup dua hal, yaitu
ü Sifat
deduktif-hipotesis
Ketika anak mendapatkan masalah, maka mereka akan membentuk
strategi-strategi penyelesaian berdasarkan hepotesis permasalahan tersebut.
Maka dari itulah berpikir operasional formal juga disebut berpikir
proporsional.
ü Berpikir
operasional formal juga berfikir kombinatoris.
Berpikir operasional formal memungkinkan orang untuk
mempunyai tingkah laku problem solving yang betul-betul ilmiah.
Perkembangan
kognitif dapat dikaji dengan menggunakan pendekatan system pemprosesan
informasi sebagai alternatif terhadap teori kognitif Piaget. Pada teori Piaget
perkembangan kognitif digambarkan dengan berbagai tahap tetapi, para pakar
psikologi pemprosesan informasi lebih menekankan pentingnya proses-proses
kognitif atau menganalisis perkembangan keterampilan kognitif, seperti
perhatian, memori, metakofnisi dan strategi kognitif.
Setidaknya
ada tiga dasar asumsi umum teori pemprosesan informasi
a. Pikiran
dipandang sebagai suatu system penyimpanan dan pengembalian informasi.
b. Individu-individu
memproses informasi dari lingkungan.
c. Terdapat
keterbatasan pada kapasitas untuk memproses informasi dari seorang individu.
Berdasarkan pemaparan diatas maka dapat
kita pahami bahwa teori pemprosesan informasi lebih menekankan bagaimana
individu memproses informasi tentang dunia, bagaimana informasi masuk ke dalam
fikiran, bagaimana penyimpanan dan penyebaran informasi dan bagaimana
pengambilan kembali informasi untuk melaksanakan aktivitas yang kompleks. Sehingga
inti dari pendekatan pemprosesan informasi ini adalah proses memori dan proses
berfikir.
Robert Siegler (1998) mendiskripsikan
tiga karakteristik utama dari pendekatan pemprosesan informasi, yaitu proses
berfikir, mekanisme pengubah, dan modifikasi diri. Seperti uraian diatas, kita
ketahui para ahli teori pemrosesan informasi menolak pendapat Piaget tentang
tahap-tahap perkembangan kognitif. Mereka percaya bahwa proses kognitif
berkembang secara gradual dan cendrung tetap.
C. Aspek perkembangan
kognitif peserta didik
1. Persepsi
persepsi adalah suatu proses penggunaan pengetahuan yang
telah dimiliki untuk memperoleh dan menginterpretasi stimulus (rangsaan) yang
diterima oleh sistem alat indra manusia. Segala informasi tentang dunia akan
sampai ke individu melalui indra
Penilaian ( appraisal) seseorang terhadap suatu stimulus
biasanya dilakukan meelalui proses kongnitif, yaitu proses mental yang
memungkinkan seseorang mengevaluasi, memaknai dan menggunakan informasi yang
diperoleh melalui kongnitif yang ada pada diri manusia akan memugkinkan terjadiya
proses penyaringan, perubahan atau modifikasi dari stimulus yang ada.
Persepsi adalah proses kognitif yang kompleks untuk
mnghasilkan suatu gambaran yang unik tentang relistas yang barangkali sangat
berbeda dengan kenyataan sesungguhnya. Persepsi meliputi suatu interaksi rumit
yang melibatkan setidaknya tiga komponen utama, yaitu : seleksi, penyusunan,
dan penafsiran.
ü Seleksi adalah proses penyarigan oleh indra terhadap stimulus.
Seleksi percetual ini tidak hanya bergantung pada determinan. determinan utama
dari perhatian seperti : intensitas (intensity), kualitas (quality), kesegaran
(suddennes), kebaruan (novelty), gerakan (movement) dan kesesuaian (kongruity)
dengan muatan kesadaran yang telah ada melainkan juga tergantung pada minat,
kebutuhan-kebutuhan, dan nilai-nilai yang dianut.
ü Penyusunan adalah proses mereduksi, mengorganisasikan, menata,
atau menyederhanakan informasi yang kompleks dalam suatu yang bermakna.
ü Penafsiran adalah proses menerjemahkan atau menginterprstasikan
informasi atau stimulus kedalam bentuk tingkah laku sebagai respons
2. memori (ingatan)
Memori adalah sistem kognitif manusia yang mempunyai fungsi
menyimpan informasi atau pengetahuan. memori adalah keseluruhan pengalaman masa
lampau yang dapat di ingat kembali. (Caplin 2002).
Perkembangan Memori
Setelah anak usia 7 tahun tidak terlihat adanya peningkatan yang berarti.
Namun, mereka memproses informasi menunjukan keterbatasan-keterbatasan
dibandingkan dengan orang dewasa. Berbeda halnya dengan memori jangka panjang,
terlihat adanya peningkatan seiring dengan penambahan usia selama masa usia
sekolah. Ini dikarenakan memori jangka panjang sangat berpengaruh pada
kegiatan-kegiatan belajar individu ketika mempelajari dan mengingat informasi.
Dalam suatu studi tentang perkembangan memori, dilaporkan
rentang memori meningkat bersamaan dengan bertambahnya usia. Pada usia 2 tahun,
anak dapat mengingat 2 digit, pada anak usia 7 tahun meningkat menjadi 5 digit
dan 7 digit pada usia 12 tahun.
3.
Atensi ( Perhatian)
Atensi (attention) atau perhatian merupakan sebuah konsep
multi-dimensional yang digunakan yang digunakan untuk menggambarkan perbedaan
ciri-ciri dan cara-cara merespons dalam sistem kognitif (Parkon, 2000). Menurut
chaplin (2002), atensi adalah konsentrasi terhadap aktivitas mental.
Aspek-aspek atensi yang berkembang selama masa bayi memiliki
arti yang sangat penting selama tahun-tahun prasekolah. Penelitian telah
menunjukkan bahwa hilangnya atensi (habitutation) dan pulihnya atensi (
dishabituation) jika diukur pada 6 bulan pertama masa bayi, berkaitan dengan
tingginya kecerdasan pada tahun-tahun prsekolah.
Para ahli psikologi perkembangan meyakini bahwa perubahan ini
mencerminkan suatu pergeseran pengendalian kognitif perhatian sehingga anak-anak
bertindak kurang impulsif
John Flavel ( dalam Woolfolk & Nicolich,2004 )
mendeskripsikan empat aspek atensi yang berkembang seiring dengan bertambah
besarnya anak, yaitu :
ü
Ketika anak-anak tumbuh
semakin besar, ia lebih mampu mengendalikan atensinya. Mereka tidak hanya
memiliki atensi dangkal, tetapi mereka juga semakin berkembang ketika fokus
pada apa yang penting dan mengabaikan detail-detail yang tidak relevan.
ü
Seiring dengan
perkembangannya, anak-anak menjadi lebih baik dalam menyesuaikan kemampuan
atensinya dengan tugas.
ü
Anak-anak mengembangkan
kemampuannya untuk merencanakan bagaimana ia akan mengarahkan atensinya. Mereka
akan mencari kata kunci untuk menentukan sesuatu yang penting dan siap untuk
memperhatikan.
ü
Anak-anak mengembangkan
kemampuan mereka untuk memonitor atensinya, menetapkan apakah mereka
menggunakan strategi yang tepat, dan mengubah pendekatan saat diperlukan untuk
mengikuti rangkaian peristiwa yang kompleks.
D.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Perkembangan Kognitif.
1.
Perkembangan kognitif merupakan salah satu topik yang sering
dibicarakan dan diperdebatkan banyak orang. Berbagai cara dilakukan supaya
perkembangan kognitif seorang anak menjadi optimal. Perkembangan kognitif
meliputi perkembangan dalam hal pemikiran, intelegensi, dan bahasa.
2.
kemampuan kognitif seseorang dipengaruhi oleh dua hal yaitu,
faktor herediter atau keturunan dan faktor non herediter. Faktor herediter
merupakan faktor yang bersifat statis, lebih sulit untuk berubah. Sebaliknya,
faktor non herediter merupakan faktor yang lebih plastis, lebih memungkinkan
untuk diutak-atik oleh lingkungan. Pengaruh non herediter antara lain peranan
gizi, peran keluarga, dalam hal ini lebih mengarah pada pengasuhan, dan peran
masyarakat atau lingkungan termasuk pengalaman dalam menjalani kehidupan.
3.
Perkembangan kognitif sendiri sudah dapat dipersiapkan sejak
dalam kandungan sampai dewasa. Asupan gizi yang sehat dan seimbang menjadi
fondasi bagi perkembangan kognitif. Calon bayi juga dapat dirangsang dengan
cara memberikan stimulus atau rangsangan seperti, mengajak bercakap-cakap,
mendengar musik, melakukan relaksasi, menjaga stabilitas emosi pada ibu.
Setelah lahir, rangsangan yang diberikan juga tetap diberikan.
4.
Salah satu perkembangan fisik yang mempengaruhi perkembangan
kognitif adalah perkembangan otak Otak berkembang paling pesat pada masa bayi.
Pada masa kanak-kanak otak tidak bertumbuh dan berkembang sepesat masa bayi.
Pada masa awal kanak-kanak, perkembangan otak dan sistem syaraf berkelanjutan.
Otak dan kepala bertumbuh lebih pesat daripada bagian tubuh lainnya.
Bertambah matangnya otak, dikombinasikan dengan kesempatan untuk mengalami
suatu pengalaman melalui rangsangan dari lingkungan menjadi sumbangan terbesar
bagi lahirnya kemampuan-kemampuan kognitif pada anak. Artinya, perkembangan
kognitif menjadi optimal jika ada kematangan dalam pertumbuhan otak serta ada
rangsangan dari lingkungannya.
5.
Kasih sayang merupakan suatu aspek penting dari relasi
keluarga pada masa bayi yang dapat mempengaruhi perkembangan kognitif pada anak
ke depannya Penting diperhatikan bahwa kasih sayang pengasuh pada tahun-tahun
pertama kehidupan anak menjadi kunci pada perkembangan selanjutnya. Seorang
pakar psikologi perkembangan, Diana Baumrind meyakini bahwa orang tua hendaknya
tidak menghukum atau mengucilkan anak namun sebagai gantinya orang tua harus
mengembangkan aturan-aturan dan mencurahkan kasih sayang pada anak.
6.
Gaya pengasuhan
Baumrind menekankan tiga tipe gaya pengasuhan yang dapat
mempengaruhi perkembangan kognitif, pada anak yaitu :
-Gaya pengasuhan Otoriter (authoritarian parenting)
Gaya
pengasuhan otoriter adalah suatu gaya yang membatasi dan menghukum yang
menuntut anak untuk mengikuti perintah-perintah orangtua dan menghormati
pekerjaan dan usaha. Orangtua yang otoriter menetapkan batasan-batasan yang
tegas dan tidak memberikan peluang pada anak untuk berbicara atau bermusyawarah
-Gaya pengasuhan Otoritatif (authoritative parenting)
Gaya
pengasuhan Otoritatif adalah merupakan pengasuhan yang mendorong anak untuk
tetap mandiri tapi masih menetapkan batas-batas dan pengendalian atas
tindakan-tindakan mereka. Orangtua mampu menunjukkan kehangatan dan kasih
sayang sekaligus memungkinkan untuk melakukan musyawarah dalam menghadapi
persoalan.
-Pengasuhan otoritatif diasosiasikan
dengan kompetensi sosial yang baik pada anak. Perkembangan kognitif
diprediksikan menjadi lebih optimal karena anak memiliki kesempatan untuk
mengembangkan kreativitas, kemampuan untuk menyelesaikan masalah (problem
solving) namun tetap mengetahui norma atau aturan yang berlaku, maupun
mengembangkan rasa ingin tahu tanpa mengalami ketakutan.
7. Pengaruh
lingkungan.
Pengaruh
lingkungan juga memberikan andil yang cukup besar terhadap perkembangan
kognitif anak. Lingkungan dalam konteks ini adalah lingkungan di luar rumah
atau keluarga. Lingkungan pertama yang berpengaruh adalah sekolah, pengaruh
teman sebaya (peers), status sosial ekonomi, peran gender dalam keluarga, dan
media masa.
Lingkungan
yang kondusif bagi perkembangan kognitif anak adalah lingkungan yang mampu merangsang
rasa ingin tahu, kemampuan untuk mengamati serta menyelesaikan masalah serta
mengembangkan alternative penyelesaian masalah.
E. Implikasi Teori
Perkembangan Kognitif Piaget Terhadap Pendidikan
1.
Memberi kesempatan kepada
peserta didik melakuka eksperimen terhdap objek-objek fisik dan
fenomena-fenomena alam.
Pada tingkat pra-sekolah eksplorasi
ini dapat berupa permainan dengan air, pasir, balok-balok kayu, dan lain-lain.
Demikian juga halnya dengan siswa-siswa sekolah menengah meskipun telah
memiliki kemampuan untuk berfikir abstrak, masih perlu diberi kesempatan untuk
memanipulasi dan melakukan eksperimen dengan benda-benda konkret, seperti
bereksperimen dengan menggunakan alat-alat di laboratorium, kamera, dan film,
peralatan memasak dan makan.
2.
Mengeksplorasi kemampuan
penalaran siswa dengan mengajukan pertanyaan atau pemberian tugas-tugas
pemecahan masalah.
Dengan memberikan tugas-tugas
Piagetian, baik yang berkaitan dengan keterampilan berpikir operasional konkret
maupun operasional formal (seperti konservasi, multifikasi, separasi atau
mengontrol variabel-variabel, penalaran proporsional dan sebagainya)guru akan
mendapatkan pengetahuan yang mendalam tentang bagaimana pemikiran penalaran
para siswa.
3.
Merancang aktivitas
kelompok dimana siswa berbagai pandangan dan kepercayaan dengan siswa lain.
Menurut Piaget interaksi dengan teman
sebaya sangat membantu anak memahami bahwa orang lain memiliki pandangan dunia
yang berbeda dengan pandangannya sendiri dan ide-ide mereka tidak selalu akurat
dan logis
F. Implikasi Perkembangan
Kognitif Peserta Didik
Beberapa strategi yang dapat
digunakan pendidik dalam mengembangkan proses-proses kognitif siswa.
1. Ajak peserta didik untuk memfokuskan perhatian dan meminimalkan
gangguan
2. Gunakan isyarat, gerakan dan perubahan nada suara yang
menunjukan bahwa ada sesuatu yang penting
3. Bantu peserta didik untuk membuat isyarat atau petunjuk sendiri
atau memahami satu kalimat yang perlu diperhatikan.
4. Gunakan komentar instruksional
5. Buat pembelajaran menjadi menarik
6. Gunakan media dan teknologi secara efektif
7. Fokuskan pada pembelajaran aktif untuk membuat proses
pembelajaran menjadi lebih menenangkan
8. Ubah lingkungan fisik dengan mengubah tata ruang, dan model tempat duduk.
9. Hindari prilaku yang membingungkan
10. Dorong peserta didik untuk mengingat materi pembelajaran secara
lebih mendalam
11. Bantu peserta didik menata informasi yang akan dimasukkan
kedalam memori.
12. Bantu peserta didik mengingat kembali informasi yang disajikan
sebelumnya.
13. Bantu peserta didik memahami dan mengkombinasikan informasi
14. Latih peserta didik meggunakan strategi mnemonik. Yakni strategi
memori dengan cara menghafal
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Perkembangan kognitif adalah salah satu
aspek perkembangan peserta didik yang berkaitan dengan pengertian
(pengetahuan), yaitu semua proses psikologis yag berkaitan dengan bagaimana
individu mempelajari dan memikirkan lingkungannya.
Menurut teori Piaget, setiap individu pada saat tumbuh mulai
dari bayi yang baru di lahirkan sampai mengijak usia dewasa mengalami empat
tingkat perkembangan kognitif, yaitu tahap aensori-motorik (dari lahir sampai 2
tahun), tahap pra-operasional (usia 2 sampai 7 tahun), tahap
konkret-operasional (usia 7 sampai 11 tahun), dan tahap operasional formal
(usia 11 tahun ke atas)
teori pemprosesan informasi lebih menekankan bagaimana
individu memproses informasi tentang dunia, bagaimana informasi masuk ke dalam
fikiran, bagaimana penyimpanan dan penyebaran informasi dan bagaimana
pengambilan kembali informasi untuk melaksanakan aktivitas yang kompleks.
adapun Aspek perkembangan kognitif peserta
didik diantaranya adalah : persepsi, memori (ingatan) dan atensi (perhatian).
selain itu ada beberapaa faktor yang menyebabkan berkembangnya kognitif peserta
didik, salah satunya adalah faktor herediter dan non heredite, faktor
prtumbuhan otak, fajtor kasih sayang, faktor pengasuhan dan faktor lingkungan.
kemudian impilikasi yang bisa kita terapkan
dari teori piaget salah satunya adalah Memberi kesempatan kepada peserta
didik melakuka eksperimen terhdap objek-objek fisik dan fenomena-fenomena alam,
Mengeksplorasi kemampuan penalaran siswa dengan mengajukan pertanyaan atau
pemberian tugas-tugas pemecahan masalah.
selanjutnya
strategi yang harus dilakukan pendidik terhadap pesrta didik salah satunya
adalah dengan menghargai usaha peserta didik, memberikan komentar berupa
instruksi yang baik, dan gunakan kemajuan teknologi untuk memfasilitasi proses
pembelajaran agar lebih menarik.
DAFTAR
PUSTAKA
http://tumbuhkembanganak.edublogs.org/2008/04/29/perkembangan-kognitif/comment-page-1/ Di akses pada tanggal 12 Oktober pkl 9.00
http://planetmatematika.blogspot.co.id/2011/11/perkembangan-kognitif.html Di akses pada tanggal 12 Oktober pkl 9.15
http://syaidahbadriyah.blogspot.co.id/2015/12/perkembangan-kognitif.html Di akses pada tanggal 12 Oktober pkl 9.30
http://edukasi.kompasiana.com/2011/03/12/teori-perkembangan-kognitif-jean-piaget-dan-Implikasinyanya-dalam-pendidikan-346946.html Di akses pada tanggal
12 Oktober pkl 9.45
Tidak ada komentar:
Posting Komentar